Rabu, 20 Oktober 2010

PAHLAWAN REVOLUSI


I.         BRIGJEN TNI ANMUMERTA KATAMSO DHARMOKUSUMO
A.      Riwayat Hidup
Lahir di Sragen, 5 Februari 1923. Ayahnya bernama                    Ki Sastrodarmo sedang Istrinya bernama RR. Sriwulan Murni. Katamso Dharmokusumo berhasil menyelasikan pendidikannya di HIS, MULO, SESKO – AD, dan PETA. Beliau mempunyai   7 ( tujuh) orang anak.
B.    Riwayat Perjuangan
1.        Katamso yang sempat menyelesaikan pendidikan MULO tidak sempat melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi karena Jepang menduduki Indonesia.         Katamso Dharmokusumo masuk pendidikan PETA dan                 setelah selesai diangkat menjadi Boudanco pada Dai II Raidan (Batalyon II) di Solo, setahun kemudian diangkat menjadi Syodanco yang berkedudukan di Solo.
2.        Setelah diproklamasikan Kemerdekaan RI, Katamso Dharmokusumo masuk BKR yang kemudian ditransformasikan kedalam TKR. Katamso Dharmokusumo diangkat menjadi Komandan Kompi Klaten dan bulan Oktober 1946 pangkatnya dinaikkan menjadi Kapten. Pada waktu agresi militer Belanda II, namanya makin dikenal masyarakat karena pasukannya sering melancarkan serangan gerilya mengganggu kedudukan Belanda di dalam kota.
3.        Tahun pertama sesudah pengakuan Kedaulatan RI. Keamanan negara diganggu gerombolan DI/TII, disamping adanya pemberontakan Batalyon 423 dan Batalyon 426 yang kemudian bergabung dengan DI/TII. Kapten Katamso pun terlibat dalam usaha penumpasan pemberontakan tersebut. Tahun 1957 ia mengikuti pendidikan Sekoad Angkatan 6 di Bandung. Tahun 1958 si Sumatra Barat timbul pemberontakan PRRI yang kemudian diikuti oleh Sulawesi Utara dengan berdirinya Permesta. Mayor Katamso yang baru saja menyelesaikan pendidikan Sekoad dipercaya untuk memimpin Batalyon A Operasi 17 Agustus yang merupakan operasi gabungan untuk memadamkan Pemberontakan PRRI.
4.        Selesai operasi utama angkatan perang melancarkan operasi pembersihan. Mayor Katamso diangkat sebagai Assisten Operasi Resimen Team pertempuran II Diponegoro yang berkedudukan di bukit tinggi. Awal tahun 1959 naik pangkat menjadi Letnan Kolonel. Bulan Agustus 1959 ia diangkat menjadi Kepala Staft Resimen Riau Daratan Kodam III/ 17 Agustus, kemudian menjadi pejabat Kepala Staf Resimen Team Tempur I/Tegas yang berkedudukan di Riau.
5.        Setelah ditarik ke Jakarta ia diserahi jabatan sebagai perwira diperbantukan pada Asisten III kepala Staf Angkatan Darat, kemudian sebagai Komandan Pusat Pendidikan dan Infantri AD di Bandung. Pada bulan Agustus 1963 ditarik ke Kodam VII Diponegoro yang berkedudukan di Yogyakarta.
6.        Sebagai komandan teritorial, Katamso berusaha mendekatkan diri dengan rakyat, memperhatikan kesejahteraan pendidikan bahkan membangun gedung baru untuk sekolah. Pada tingkat mahasiswa Katamso sempat melatih kemiliteran dengan harapan sewaktu – waktu mahasiswa diperlukan sudah mampu memimpin sebuah kompi.
7.        Semua rencana Katamso terhalang dengan meletusnya G30S/PKI. RRI Jakarta yang sudah dikuasi PKI mengumumkan terbentuknya Dewan Revolusi. Para pejabat teras Angkatan Darat di Jakarta mereka diculik dan mereka terbunuh.
8.        Pada saat masyarakat diliputi keraguan, PKI telah menyiapkan rencana untuk memperebutkan kekuasaannya di Yogyakarta. Sasaran pertamanya adalah Kolonel Katamso.
9.        Tanggal 1 Oktober 1965, Setelah Kolonel Katamso kembali dari Magelang, kepadanya disodorkan persyaratan mendukung Dewan Revolusi. Dengan tegas Kolonel menolaknya. Ketika mengadakan rapat dengan para staf di rumahnya, katamso sangat terkejut mengetahui para stafnya banyak yang dipengaruhi PKI. Di bawah todongan senjata, ia dibawa ke Desa Kentungan. Malam tanggal 2 oktober 1965 ia dibunuh. Mayatnya dimasukkan ke dalam lubang yang telah disiapkan. Ke dalam lubang itu pula letnan Kolonel Sugiyono dimasukkan, tanggal 22 Oktober 1965 dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara Yogyakarta.
10.     Pemerintah menghargai jasa-jasa dan pengabdian Kolonel Katamso terhadap bangsa dan negara, dengan surat keputusan Presiden : 118/KOTI/tahun 1965 tanggal 19 Oktober 1965 ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi, pangkatnya dinaikkan secara Anumerta menjadi           Brigadir Jenderal.

II.       KOLONEL INFANTRI ANUMERTA SUGIYONO
A.      Riwayat Hidup
Sugiyono Mangunwiyoto dilahirkan di Dusun Gederan, Gunung Kidul Yogyakarta pada tanggal 12 Agustus 1926. Ayahnya bernama Kasan Sumitoredjo dan Istrinya bernama Supriyati serta mempunyai 7 (tujuh) orang anak.
B.    Riwayat Perjuangan
1.        Setelah menyelesaikan pendidikan di sekolah guru ia tidak memilih bekerja sebagai guru tetapi lebih tertarik menjadi seorang militer. Pada saat pemerintah pendudukan Jepang mendirikan PETA, ia masuk pendidikan PETA dan setelah selesai diangkat sebagai Budanco (komandan pleton) di Wonosari
2.        Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI karir militernya tetap dilanjutkan dengan menggabungkan diri sebagai anggota BKR. Sugiono Mangunwiyoto diangkat sebaggai Komandan Seksi BKR Yogyakarta.
Tanggal 5 Oktober 1945 dibentuk TKR dan BKR ditranformasikan ke dalam TKR
Dengan pangkat Letnan dua Sugiyono diangkat menjadi Komandan Seksi 2 Batalyon 10 Resimen 3 di Yogykarta. Setahun kemudian ia diangkat sebagai Ajudan Komandan Brigade 10 Divisi, Letkol Soeharto dan dua tahun kemudian diangkat sebagai Perwira Operasi Brigade C di Yogyakarta. Setelah perang Kemerdekaan ia diangkat menjadi Komandan Kompi 4 Batalyon 411 Brigade C Berkedudukan di Purworejo.
3.     Tahun 1955 naik pangkat menjadi Kapten dan kemudian ditugaskan pada Batalyon 436 di Magelang. Tiga tahun kemudian 1958 diangkat sebagai wakil Komandan Batalyon 441 di Semarang dan sejak Mei 1961 memegang jabatan Komandan Batalyon 4117 banteng Raider III dengan pangkat Mayor. Dari jabatan Komandan Batalyon ia diserahi tugas sebagai komandan Kodim di Yogyakarta merangkap sebagai Pejabat Sementara Kepala Staf 072. Tahun 1963 naik pangkat sebagai Letnan Kolonel.
4.     Pada saat Sugiyono memangku jabatan sebagai Komandan Kodim di Yogyakarta, PKI sudah memperlihatkan kegiatan – kegiatan yang kelak akan menjurus kearah perebutan kekuasaan negara. Intimidasi terhadap golongan yang tidak disenangi sering dilakukan sehingga ketentraman kota menjadi terganggu. Hal ini merupakan tanggungjawab Sugiyono untuk memelihara keamanan tersebut.
5.     Bersama Kolonel  Katamso, Sugiyono berusaha semaksimal mungkin melakukan pembinaan territorial, pendekatan dengan masyarakat dan mahasiswa. Hal ini dinilai PKI sebagai penghalang kegiatan mereka, sehingga Sugiyono termasuk salam seorang perwira yang harus disingkirkan. Tanggal 1 Oktober 1965 PKI melakukan pemberontakan yang disebut G30S/PKI.
6.     Seorang perwira staf Koerm 072 mayor Mulyono mendukung pemberontakan. Ia membagi – bagikan senjata kepada PKI. Markas Korem telah mereka kuasai, sementara itu Sugiyono pergi ke Markas Korem dengan maksud menyusun kekuatan. Tanpa disadarinya ia sudah masuk perangkap. Beberapa anak buah Mayor Mulyono masuk kamar Sugiyono dan menggiringnya di bawah ancaman senjata dibawa ke Kentungan. Satu jam sebelumnya Kolonel Katamso juga mendapat perlakuan yang sama. Untuk sementara ditahan di Markas Batalyon 2 Kentungan.
7.     Tanggal 2 Oktober 1965 pukul 02.00 WIB Letkol Sugiyono dikeluarkan dari tahanan bersama Kolonel Katamso, keduanya dibunuh. Mayor sugiyono dimasukkan kedalam lubang yang sama dengan Katamso. Jenasah kedua Perwira tersebut baru diketemukan pada tanggal 21 Oktober 1965. sehari kemudian  tanggal 22 Oktober 1965 kedua jenazah tersebut dimakamkan di Taman makam Pahlawan kusumanegara Yogyakarta.
8.     Pemerintah menghargai jasa-jasa dan pengabdiannya, berdasarkan SK Presiden No. 118/KOTI/1965 ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi, pangkatnya dinaikkan menjadi Kolonel Anumerta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar